Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah Dan Hubungannya Dengan Upaya Kota Banda Aceh.

Pertumbuhan dan perkembangan Kota Banda Aceh dewasa ini telah memicu persoalan baru yang cukup merepotkan. Sampah-sampah yang menumpuk di berbagai sudut kota, menjadi pekerjaan rumah khususnya bagi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota dan umumnya bagi seluruh masyarakat di Kota Banda Aceh. Masalah sampah ini menjadi tanggung jawab bersama, karena itu harus dicari solusi yang tepat untuk mengantisipasi melimpahnya sampah.

Hadirnya pemulung belakangan ini untuk mengambil sampah-sampah anorganik yang masih dapat didaur ulang (recycle) berkonstribusi terhadap kebersihan lingkungan, serta dapat membantu menekan debit sampah. Penelitian ini untuk melihat sejauhmana peran pemulung dalam pengelolaan sampah dan hubungannya dengan upaya kebersihan lingkungan, sistem pengolahan sampah, mengurangi debit sampah di TPS dan TPA, lingkungan sosial ekonomi/pendapatan pemulung itu sendiri serta memprediksikan masa depan pemulung di Kota Banda Aceh. Hal tersebut berkaitan dengan pelaksanaan Perda No.6 tahun 1980 No.188.342/827/1980. Tanggal 27 Desember 1980 tentang kebersihan dan keindahan kota, dengan motto Kota “Beriman”. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banda Aceh, Jumlah pemulung di Kota Banda Aceh sebanyak 800 orang. Terdiri dari pemulung formal dan nonformal.

Sampel diambil secara proporsional 15% dari empat kecamatan dalam Kota Banda Aceh, yaitu sebanyak 120 orang. Kecamatan Meraka sebanyak 7 orang, Kecamatan Baiturrahman sebanyak 16 orang, Kecamatan Kuta Alam sebanyak 57 orang, Kecamatan Syiah Kuala sebanyak 40 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesyioner (angket), wawancara, observasi langsung ke lapangan serta studi dokumentasi. Kemudian dengan uji (t-test) untuk melihat hubungan variabel berbas (X) dengan variabel terikat (Y). Indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : umur,jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, lamanya menekuni profesi pemulung, jumlah anggota regu kerja, alat transportasi yang digunakan, jam kerja/hari, motivasi kerja, kondisi jalan dan konteiner (TPS), lokasi TPS, jumlah hasil pulungan/orang/hari, jumlah pendapatan/orang/hari, jumlah yang dapat ditabung/hari serta pengeluaran rutin untuk berbagai kebutuhan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemulung memiliki andil yang bermakna dalam upaya kota Banda Aceh menuju kota “Beriman”. Menyangkut masa depan pemulung sendiri dengan kondisi yang ada saat ini di Kota Banda Aceh belum menunjukkan tanda-tanda yang lebih baik. Berkenaan dengan pengelolaan sampah yang dilakukan Pemda belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini karena sarana dan prasarana yang dimiliki saat ini kurang memadai, sehingga menyebabkan Perda No.6 tahun 1980 belum terlaksana secara sempurna. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi sampah di kota Banda Aceh mencapai 356,61 m3/hari, sedangkan yang terangkut barn berkisar 248,92 m3/hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: